Ketika aku menyusuri lorong jalan bersamanya
seribu pasang mata di dinding acuh tak acuh melihatku
tetapi dari seribu pasang mata itu
ku menangkap sepasang mata meredam api cemburu
dari setiap arah aku melihat sepasang mata itu
terus mengikuti setiap denyut kakiku
sepasang mata yang dulu selalu aku pandangi
sepasang mata yang dulu selalu menemani
kini hanya bisa diam membisu
melihat kebahagiaanku yang baru
sepasang mata yang sayu
begitu tegar melihatku tanpa tersedu
sepasang mata yang sendu
begitu kuat mengikutiku tanpa pilu
tetaplah tegar
karena dunia itu berputar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar